Kamis, 17 Januari 2008


Siapa Aku = Fungsi Keberadaanku?

Oleh Ahmad Mukhlis

Dalam pepatah Arab seorang filosof berkata” “Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”. Pepatah ini mengandung makna sebelum manusia ma’rifatullah terlebih dahulu harus ma’rifatunnafsi. Ma’rifatunnafsi adalah sebuah proses mengenal diri atau mengenal sang aku. Sejak pertama manusia diciptakan ia sudah mengalami problem dengan sang aku. Minimal untuk mengindentifikasi aku manusia menggunakan banyak parameter dan persepsi diri. Dan yang kemudian diaktualkan sebagai aku kadang bukan benar-benar aku seperti yang dikehendaki sang pencipta. Tapi aku ego yang merasa serba bisa dan serba berkuasa, sehingga aku semacam ini gagal melakukan ma’riftullah.

Untuk mendapatkan gambaran aku yang sebenarnya aku pun melakukan renungan soal anatomi tubuhku dan jiwaku yang didalamnya ada kehendak. Ya kemudian aku menarik benang merah bahwa sebutan aku adalah sebuah sebutan tentang individu yang melambangkan keseluruhan unsur individu yang meliputi jiwa dan raganya. Namun demikian hingga kini tetaplah misteri eksistensi aku dalam konteks kesemestaan ini. Begitu juga dalam konteks manusia sendiri aku seringkali menjadi dilema. Yang paling sederhana adalah mempertanyakan jati diri aku dan fungsiku di dunia. Pastilah Tuhan ciptakan manusia ada tujuan dan fungsi yang diemban.

Sebagaimana manusia aku selalu bertanya siapakah aku dan untuk apa aku diciptakan. Pertanyaan ini seringkali sulit dijawab tanpa melakukan perenungan mendalam terhadap zat yang maha segalanya. Sungguh setiap aku bertanya siapa aku yang muncul adalah persepsi dan gambaran pribadiku yang mungkin bukan aku yang sebenarnya. Aku selalu menampilkan topeng wajahku sebab aku memang tak mengenal diriku. Ini mungkin hasil dari konstruksi persepsi yang diberikan kepadaku dari dunia luar. Akupun melakukan pengembaraan ke dalam diri untuk mengenali apa sebenarnya hikmah penciptaan diriku. Aku mulai mencari jawaban atas pertanyaan untuk apa aku diciptakan oleh yang maha kuasa.

Kemudian aku cari jawabannya lewat wahyu. Dalam Al-Quran Allah berfirman: “Sesungguhnya tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah,”. Dalam ayat yang lain Allah menjawab pertanyaan manusia untuk apa diciptakan dengan firman: “Sesungguhnya Aku ciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi”. Kata khalifah dalam bahasa Arab diterjemahkan sebagai wakil, pengelola, pemimpin, dan pengayom. Ya secara tersirat aku diciptakan tentu saja tidak jauh dari makna tersebut. Hal itu diperkuat lagi oleh hadits Nabi Muhammad : “Sesungguhnya setiap kamu adalah pemimpin, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu di akherat.”

Dengan demikian sejak di alam azali aku sudah diberi amanah oleh sang pencipta agar menjadi khalifah di semua lini kehidupan. Aku memang diberi kebebasan memilih oleh sang Pencipta, tapi tetap saja melekat amanah sebagai wakil Tuhan yang harus mengelola alam dan menciptakan kedamaian. Dalam tugas itulah sekali waktu aku harus menjadi seorang negosiator, provokator, dai, leader, dan sekali waktu menjadi orang biasa. Peran ini kadang berjalan bersamaan sesuai dengan ruang dan waktu. Ya aku demikian sempurna diciptakan Allah. Dari sinilah aku mengenal Allah (Ma’rifatullah) sebagai sang maha pencipta.

Aku akhirnya menjadi manusia seribu wajah karena demikian banyak peran dan fungsi atas keberadaanku di dunia. Namun diatas segalanya, aku ternyata hanyalah seorang hamba yang wajib mengabdikan seluruh hidup dan matiku hanya untuk Allah. Statemen ini tentu saja sulit aku deklarasikan jika aku tak mengenal diri sendiri sebagai pintu mengenal Allah. ***

Tidak ada komentar: