Kamis, 17 Januari 2008


GP Ansor dan Perubahan Masyarakat

Oleh Luthfi Fauzi, SHI, MM

Perubahan masyarakat tidak berjalan dengan sendirinya. Selalu ada manusia-manusia istimewa yang menampilkan diri sebagai sosok pembaru dan pembawa perubahan. Mereka bisa perseorangan tapi juga bisa komunitas organisasi. Sejarah telah banyak mencatat bagaimana kiprah para pembawa perubahan itu benar-benar merubah masyarakat. Salah satunya adalah GP Ansor, organisasi kepemudaan tertua yang sudah lama malang melintang mengarungi pahitnya perjalanan bangsa Indonesia. Semua orang pasti pernah mendengar harumnya Ansor dalam mengawal perjalanan bangsa ini.

Makanya boleh dibilang Gerakan Pemuda Ansor sudah kenyang dengan ujian sejarah. Pemuda Ansor pernah tampil menjadi kekuatan nasionalisme tanpa pamrih dengan Banser-nya. Sehingga tidak heran jika Pemuda Ansor menjadi “icon” keberanian pemuda kala itu. Banyak kader Ansor yang kemudian tampil mewarnai perjalanan bangsa. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas tentang kiprah Ansor dengan Banser-nya. Namun seiring dengan perjalanan sang waktu dan kerentaan usia organisasi, GP Ansor pun tak lagi mampu menolak perubahan dan godaan dari kanan kiri. Salah satunya perubahan gaya hidup dan godaan politik yang menyeret Ansor pada posisi yang serba sulit.

Kader Ansor zaman dahulu adalah benar-benar pemuda yang tulus ikhlas berjuang demi menegakkan amar ma’ruf. Tidak ada pamrih duniawai dan pamrih lainnya. Makanya mereka sangat kuat dan militan dalam menghadapi berbagai persoalan. Kesulitan organisasi tidak menjadikan mereka mogok berjuang. Malah sebagain mereka mendermabaktikan hidupnya di Ansor. Ini semua dilakukan karena mereka meyakini bahwa yang mereka kerjakan semata-mata demi ummat. Karena itulah para pemuda Ansor kemudian banyak yang menjadi agen perubahan sosial di daerahnya.

Tapi lihatlah Ansor hari ini yang hidup ditengah glamour gaya hidup modern. Rasanya sangat sulit mencari kader Ansor yang setulus generasi awal Ansor. Kenapa? Perubahan gaya hidup telah menggeser paradigma berorganisasi. Dulu orang berorganisasi semata-mata menyalurkan aspirasi dan panggilan hati. Tapi sekarang orang berorganisasi karena ingin mencari hidup. Makanya tabiat kader Ansor sekarang adalah ada uang baru akan bergerak. Jika tidak ada uang, ya dijamin organisasi Ansor mandul.

Sementara orang yang punya idealisme dan kepedulian untuk memajukan Ansor tersingkir atau bahkan mengasingkan diri. Ansor kemudian menjadi tidak menarik untuk digeluti. Padahal sebagai organisasi kepemudaan tertua, Ansor telah mencetak ribuan kader pemimpin bangsa yang menyebar ke semua lapisan masyarakat. Kenapa ini tidak menjadi ruh jihad Ansor saat ini ? Ini harus menjadi bahan pemikiran bersama. Yakni bagaimana mengembalikan Ansor pada khittahnya. Ansor merupakan organisasi kader yang menyiapkan calon pemimpin bukan organisasi gerombolan. Karena itu, Ansor baru akan bisa melahirkan pemimpin militan bila khittah perjuangan Ansor dimaknai ulang.

Penulis, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadussalikin Padaherang, Kab. Ciamis


Siapa Aku = Fungsi Keberadaanku?

Oleh Ahmad Mukhlis

Dalam pepatah Arab seorang filosof berkata” “Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”. Pepatah ini mengandung makna sebelum manusia ma’rifatullah terlebih dahulu harus ma’rifatunnafsi. Ma’rifatunnafsi adalah sebuah proses mengenal diri atau mengenal sang aku. Sejak pertama manusia diciptakan ia sudah mengalami problem dengan sang aku. Minimal untuk mengindentifikasi aku manusia menggunakan banyak parameter dan persepsi diri. Dan yang kemudian diaktualkan sebagai aku kadang bukan benar-benar aku seperti yang dikehendaki sang pencipta. Tapi aku ego yang merasa serba bisa dan serba berkuasa, sehingga aku semacam ini gagal melakukan ma’riftullah.

Untuk mendapatkan gambaran aku yang sebenarnya aku pun melakukan renungan soal anatomi tubuhku dan jiwaku yang didalamnya ada kehendak. Ya kemudian aku menarik benang merah bahwa sebutan aku adalah sebuah sebutan tentang individu yang melambangkan keseluruhan unsur individu yang meliputi jiwa dan raganya. Namun demikian hingga kini tetaplah misteri eksistensi aku dalam konteks kesemestaan ini. Begitu juga dalam konteks manusia sendiri aku seringkali menjadi dilema. Yang paling sederhana adalah mempertanyakan jati diri aku dan fungsiku di dunia. Pastilah Tuhan ciptakan manusia ada tujuan dan fungsi yang diemban.

Sebagaimana manusia aku selalu bertanya siapakah aku dan untuk apa aku diciptakan. Pertanyaan ini seringkali sulit dijawab tanpa melakukan perenungan mendalam terhadap zat yang maha segalanya. Sungguh setiap aku bertanya siapa aku yang muncul adalah persepsi dan gambaran pribadiku yang mungkin bukan aku yang sebenarnya. Aku selalu menampilkan topeng wajahku sebab aku memang tak mengenal diriku. Ini mungkin hasil dari konstruksi persepsi yang diberikan kepadaku dari dunia luar. Akupun melakukan pengembaraan ke dalam diri untuk mengenali apa sebenarnya hikmah penciptaan diriku. Aku mulai mencari jawaban atas pertanyaan untuk apa aku diciptakan oleh yang maha kuasa.

Kemudian aku cari jawabannya lewat wahyu. Dalam Al-Quran Allah berfirman: “Sesungguhnya tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah,”. Dalam ayat yang lain Allah menjawab pertanyaan manusia untuk apa diciptakan dengan firman: “Sesungguhnya Aku ciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi”. Kata khalifah dalam bahasa Arab diterjemahkan sebagai wakil, pengelola, pemimpin, dan pengayom. Ya secara tersirat aku diciptakan tentu saja tidak jauh dari makna tersebut. Hal itu diperkuat lagi oleh hadits Nabi Muhammad : “Sesungguhnya setiap kamu adalah pemimpin, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu di akherat.”

Dengan demikian sejak di alam azali aku sudah diberi amanah oleh sang pencipta agar menjadi khalifah di semua lini kehidupan. Aku memang diberi kebebasan memilih oleh sang Pencipta, tapi tetap saja melekat amanah sebagai wakil Tuhan yang harus mengelola alam dan menciptakan kedamaian. Dalam tugas itulah sekali waktu aku harus menjadi seorang negosiator, provokator, dai, leader, dan sekali waktu menjadi orang biasa. Peran ini kadang berjalan bersamaan sesuai dengan ruang dan waktu. Ya aku demikian sempurna diciptakan Allah. Dari sinilah aku mengenal Allah (Ma’rifatullah) sebagai sang maha pencipta.

Aku akhirnya menjadi manusia seribu wajah karena demikian banyak peran dan fungsi atas keberadaanku di dunia. Namun diatas segalanya, aku ternyata hanyalah seorang hamba yang wajib mengabdikan seluruh hidup dan matiku hanya untuk Allah. Statemen ini tentu saja sulit aku deklarasikan jika aku tak mengenal diri sendiri sebagai pintu mengenal Allah. ***