<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238</id><updated>2011-04-21T17:51:07.638-07:00</updated><category term='Siapa Aku'/><category term='Saatya Bupati Introspeksi'/><category term='Jadilah Ibrahim'/><category term='Andai Abu Nawas Jadi Bupati Ciamis'/><title type='text'>Selisik Kang Mukhlis</title><subtitle type='html'>Selisik adalah salah satu wahana kotemplasi diri</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238.post-1398236449653529396</id><published>2008-01-20T00:10:00.000-08:00</published><updated>2008-01-20T00:12:40.876-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>MUI dan Aliran Sesat Oleh A.Mukhlis El-Rifqi&lt;br /&gt;Kota santri yang dikenal sejuk dan nyaman kini kian memanas dan tak nyaman untuk ruang ekspresi keberagamaan. Hanya karena keyakinan berbeda, penganut Ahmadiyah di Tasikmalaya dibantai dan dirusak rumahnya. Hal yang sama juga menimpa penganut Ahmadiyah di Ciamis, yang haknya dibatasi hanya karena ia Ahmadiyah.Sebulan ini catatan tentang kekerasan yang menimpa mereka yang dituduh sesat semakin panjang lagi. Tak ada yang bisa menahan kekerasan tersebut termasuk aparat kepolisian sendiri. Masyarakat dibuat "pusing" dengan manuver dua kubu umat Islam yang perang klaim kebenaran dalam memahami Islam.&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak ada tendensi apapun kecuali memberikan pemandangan yang berbeda dengan arus pemikiran Islam di tingkat lokal. Tidak ada maksud "suul adab" kepada ulama dan kiyai, bahwa tulisan ini diilhami oleh sebuah tulisan pemikir muda NU Anis Masduki di sebuah situs yang mencoba menempatkan ulama dalam kapasitas kemanusiaannya. Sehebat apapun ulama tetap tidak ada hak mewakili kehadiran Tuhan. Begitu juga dengan mereka yang diklaim beraliran sesat tetaplah manusia yang sedang mencari Tuhan. Mereka jelas membutuhkan bimbingan dan dakwah, bukan malah dihakimi ramai-ramai dengan kekerasan yang tak terbayangkan.&lt;br /&gt;Sejak merebaknya aliran sesat, MUI tampil galak karena merasa punya otoritas menafsirkan orisinalitas Islam. MUI menuding pemahaman yang keluar dari arus utama sebagai pemahaman sesat. Otoritas ini pula yang mendorong MUI bersikap keras hendak memberantas pemikiran dan keyakinan yang tak sesuai "selera mereka" dengan meminjam tangan negara. Padahal cara semacam ini hanya akan menyisakan sejarah kelam yang mungkin berdarah-darah. Dakwah Islam semestinya jauh dari kenyataan Itu. Penghakiman dan penghukuman tak jarang justru kedok dari kegagalan dakwah. Ia menjauhkan diri dari rasa rendah hati dan kesanggupan introspeksi.&lt;br /&gt;Keputusan Rakernas MUI 2007 yang memberikan pedoman soal bagaimana mengindentifikasi aliran sesat makin meneguhkan betapa MUI begitu panik. Berbagai alasan dikemukakan seolah-olah itu kebutuhan masyarakat yang mendesak sebelum terjadi korban. Padahal masyarakat lebih terdesak oleh problem ekonomi yang menjadi garapan pemerintah maupun MUI. Klaim keresahan pun dikesankan MUI saja. Masyarakat lebih galau ketika menghadapi khutbah-khutbah, gertakan, dan aksi-aksi Islam garis keras dengan berbagai level anarkinya.MUI mendefinisikan aliran atau kelompok sesat sebagai “paham atau pemikiran yang dianut dan diamalkan sebuah kelompok yang bertentangan dengan aqidah dan syariat Islam serta dinyatakan MUI menyimpang berdasarkan dalil syar'i. Sekretaris Umum MUI, HM Ichwan Syam dalam konferensi pers Rakernas MUI mengatakan, “… Mereka yang tidak bersedia kembali ke jalan yang benar atau bertobat, maka hendaknya diadili.”&lt;br /&gt;Terlepas siapa yang paling berhak menafsirkan kebenaran wahyu, yang jelas dari kasus pemberantasan aliran sesat versi MUI kita melihat ada yang perlu didiskusikan. Ada pertanyaan yang layak diajukan yakni bisakah orang berbeda pemahaman diadili? Bisakah orang sesat pemikiran dan akidahnya dihukum pancung? Dengan menggunakan "mafhum mukholafah" MUI menyiratkan bahwa penganut aliran sesat boleh dihakimi dan mungkin bisa dipancung. Jika ini yang diyakini, tentu akan ada bahaya besar yang mengancam. Padahal Islam sangat toleran dan memberikan kebebasan keyakinan. Banyak ayat-ayat Al-Quran yang bisa ditelaah, di antaranya,pertama, ayat-ayat yang menyatakan iman dan kufur adalah masalah individual yang tak boleh diintervensi apalagi dipaksakan dari luar. Lihatlah surat al-Baqarah: 256; al-Isra: 15; al-Kahfi: 29; an-Naml: 93; Ar-Rum: 44; al-Fathir: 39; dan az-Zumar: 41.&lt;br /&gt;Kedua, petunjuk semata-mata datang dari Allah dan bergantung pada kehendak-Nya. Dalam hal ini, malaikat pun tak bisa memaksakan pemahaman yang benar atas Islam, apalagi MUI. Juru dakwah hanya bisa mengajak dengan baik, tidak dengan teror, apalagi menangkap, mengadili, dan menghukumi. Ayat-ayat yang menguatkan pendapat ini di antaranya al-Nisa: 88; Yunus: 100; al-Qashash: 56; dan Fathir: 8.Ketiga, perbedaan akidah di antara umat manusia adalah bagian dari skenario dan kehendak Allah. Dia-lah yang akan menghukuminya kelak di hari kiamat. Klaim kebenaran dan tindak penyesatan dengan demikian melampaui wewenang yang sesungguhnya hanya dimilik Allah. Kita bisa melihat Alquran surat al-Baqarah: 62, 113, 137, 148; Ali Imran: 84; Hud: 119; al-‘Ankabut: 46; az-Zumar: 46, as-Syura: 10; dan al-Kafirun: 6.&lt;br /&gt;Ayat-ayat diatas tentu saja hanya Allah yang tahu makna yang sesungguhnya. Kita sebagai manusia hanya bisa menangkap pesan yang disampaikan. Tentu saja pesan yang diterima akal pikiran kita kebenarannya bersifat relatif, sedangkan kebenaran wahyu bersifat absolut. Meski bersifat relatif, kita bisa menyimpulkan bahwa Islam memberikan ruang kebebasan keyakinan.Termasuk keputusan Rakernas MUI 2007 pun tidak mengandung kebenaran yang absolut soal aliran sesat, sebab boleh jadi pemahaman MUI dalam memaknai wahyu terjadi bias dengan kepentingan.Karena itu, MUI juga harus mau menerima kritik sebab langkahnya masih dalam ranah pemikiran.   &lt;br /&gt;Dalam sejarah Islam, ayat-ayat itu hanya diterapkan secara maksimal pada masa Kenabian dan Khulafaur Rasyidin. Nabi Muhammad membangun integrasi agama-agama dan aliran kepercayaan dalam bingkai Negara Madinah. Serangan Abu Bakar terhadap muslim yang murtad terjadi karena mereka melakukan subversi atas negara. Ini bukan karena pindah agama.Ekspansi Islam dibarengi toleransi keberagamaan yang tinggi. Sebelum melepas Usamah Ibn Zayd melakukan ekspedisi militer, Abu Bakar berpesan: “Jangan sekali-kali membunuh anak-anak, perempuan, dan orang lanjut usia. Jangan merobohkan bangunan, pepohonan, dan membunuh binatang. Kalian juga akan melihat orang keluar dari gereja, maka biarkanlah mereka. Dan janganlah kalian merebut makanan-makanan mereka!”&lt;br /&gt;Tradisi intelektual fase Muawiyah masih terbatas pada periwayatan hadits, fiqh, tafsir. Klaim kebenaran dan penyesatan terjadi pada masa Abbasiyah. Istilah zindiq dan mulhid terdengar nyaring. Pemicunya diskusi-diskusi teologis dan filosofis dalam soal-soal agama mendasar. Banyak orang dituding sesat dan dipenjara.Lalu kita mengenal al-Mahdi, khalifah pemburu zindiq dan murtad. Ia membentuk lembaga inkuisisi dan menunjuk seorang bergelar Shahib az-Zanadiqah (Pemburu orang Zindiq). Penulis al-Aghani merekam, “Ketika al-Mahdi datang ke Basrah, ia ditemani Hamdaweh, Shahib al-Zanadiq. Waktu itu seorang tokoh Mu’tazilah, Basyar dituduh zindiq. Al-Mahdi menitahkan pembunuhannya seketika.”At-Thabari dalam Tarikh al-Thabari bercerita soal fenomena sama. Al-Mahdi melantik Umar al-Kalwadzi guna melakukan investigasi dan menindak kepercayaan yang dianggap menyimpang. Inilah pertama kali munculnya lembaga pemeriksa akidah di dalam sejarah Islam. Umat Islam mulai merasa berhak mengurusi kepercayaan dan keyakinan orang lain.&lt;br /&gt;Parahnya, negara dilibatkan dalam klaim dan penindakan. Sejarah penyesatan dan pengafiran selalu terkait dengan kepentingan politik. Ahmad Ibnu Hanbal terlunta-lunta di bawah rezim al-Ma’mun, Ibn Taymiah meninggal di penjara rezim politik ortodoks. Kita juga menyaksikan penganut keyakinan tertentu bersimbah darah: Jahm bin Sufyan, Ghulam Khalil, al-Hallaj, Suhrawardi, Ibn Sab’in dan seterusnya. Hilangnya nyawa mengikuti logika menang-kalah dalam rezim politik yang silih berganti.(Anis Masduki,18/1/2008).&lt;br /&gt;Dengan membolehkan kekerasan dalam menindak "alirat sesat" maka ulama yang mengaku pewaris Nabi telah menobatkan dirinya setara dengan Nabi. Padahal nabi dan Rasul saja tidak diberi otoritas oleh Allah untuk menghukumi iman yang berbeda. Rasul diutus untuk memberikan kabar gembira kepada umat manusia, bukan malah menyampaikan berita penghakiman. Kita bisa mengeceknya dalam Alquran surat al-An’am: 48, dan al-Ahzab: 45. Begitulah yang terjadi pada Nabi Idris, Musa, Daud, Sulaiman, dan Muhammad. Ulama harusnya bisa meneladani peran ini.&lt;br /&gt;Menyampaikan berita gembira berarti berdakwah. Berdakwah berarti mengajak menuju tauhid. Tak lagi menyembah berhala, manusia, maupun menghambakan diri pada materi dan jabatan. Begitupun mengajak ibadah sebagai implementasi tauhid. Menghakimi dan menghukumi berada di luar wilayah dakwah. Pengalaman Islam Madinah menunjukkan, konsep negara di dalam Islam adalah sekuler atau netral agama. Warga negara berhak mendapat perlakuan sama berlandaskan kewarganegaraan, bukan agama dan kepercayaan. Hanya Tuhan yang berhak bicara hukum Tuhan lewat perantara Nabi-Nya. Nabi pun mendapat kawalan dan teguran langsung dari Tuhan.&lt;br /&gt;Dalam Surat Shad, Nabi Daud mendapat teguran langsung dari Allah. Nabi Muhammad sering juga mendapat teguran, seperti dalam Al-Anfal: 67. Setelah Nabi Muhammad meninggal, tak seorang pun berhak bicara atas nama hukum Tuhan. Hukum Tuhan, menurut al-Asymawi, diserahkan saja pada masyarakat untuk mengatur diri mereka menuju kebaikan dan kemajuan (at-taqaddum wat taraqqi). Karena kenabian tak pernah diwariskan (nahnu la naritsu wala nuratsu), maka pendapat dan tindakan siapa pun bisa dikritik. Orang selain Nabi tidak pernah mendapatkan teguran langsung dari Tuhan. Karena itu, pendapat dan tindakan MUI bisa pula dikritik dan disalahkan. Siapapun yang mengatasnamakan Tuhan saat ini, tak lain hendak menancapkan kesan sakral dan maksum pada diri mereka.&lt;br /&gt;Pernyataan Wapres Jusuf Kalla relevan dijadikan koreksi oleh MUI. Ia mengajak ulama untuk introspeksi diri dan mengkaji kesalahan dakwah yang mereka lakukan. Ia juga mengingatkan, “Kita harus lihat di mana letak dakwah ajaran dan kesalahan ajaran ini, dibahas dan kemudian diluruskan. Kita jangan menghindari persoalan, jangan sampai nanti muncul paham Islam memakai kekuasaan untuk dakwah.”&lt;br /&gt;Akhirnya marilah kita sama-sama introspeksi dan mengambil hikmah. Munculnya aliran sesat pasti lahir bukan di ruang hampa, tapi ia lahir di saat para pemuka agama asyik dengan dirinya sendiri. Mereka kehilangan cahaya, sehingga tertarik kepada sosok yang berani membebaskan mereka dari kungkungan kegelapan. Atau jangan-jangan ulama kita pun sama sedang dirundung kegelapan dunia sehingga tak ada waktu mengkaji kitab kuning dan kehilangan kesempatan belajar. Jangan-jangan ulama kita sedang mengalami "kejumudan ijtihad" karena sibuk melayani orderan politik, sehingga gampang memberikan fatwa yang membahayakan.Wallahu 'alam.***&lt;br /&gt;Penulis, staf pengajar Agama Islam di Universitas Galuh Ciamis. Kini tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana Magister Ilmu Lingkungan di Unsoed Purwokerto.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2060872751215773238-1398236449653529396?l=kangmuhlis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/1398236449653529396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2060872751215773238&amp;postID=1398236449653529396' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/1398236449653529396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/1398236449653529396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/2008/01/mui-dan-aliran-sesat-oleh.html' title=''/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238.post-4164000386881051434</id><published>2008-01-18T01:59:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T02:03:10.224-08:00</updated><title type='text'>10 gagasanku</title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2060872751215773238-4164000386881051434?l=kangmuhlis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/4164000386881051434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2060872751215773238&amp;postID=4164000386881051434' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/4164000386881051434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/4164000386881051434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/2008/01/10-gagasanku.html' title='10 gagasanku'/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238.post-4946429800403345391</id><published>2008-01-17T07:38:00.001-08:00</published><updated>2008-12-09T08:45:41.972-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JYCT5pGekRY/R492o89ZkUI/AAAAAAAAAGo/jGEJrgrH_no/s1600-h/GP+Ansor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 117px; height: 165px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JYCT5pGekRY/R492o89ZkUI/AAAAAAAAAGo/jGEJrgrH_no/s200/GP+Ansor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156470544293007682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;GP Ansor dan Perubahan Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Oleh Luthfi Fauzi, SHI, MM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perubahan masyarakat tidak berjalan dengan sendirinya. Selalu ada manusia-manusia istimewa yang menampilkan diri sebagai sosok pembaru dan pembawa perubahan. Mereka bisa perseorangan tapi juga bisa komunitas organisasi. Sejarah telah banyak mencatat bagaimana kiprah para pembawa perubahan itu benar-benar merubah masyarakat. Salah satunya adalah GP Ansor, organisasi kepemudaan tertua yang sudah lama malang melintang mengarungi pahitnya perjalanan bangsa Indonesia. Semua orang pasti pernah mendengar harumnya Ansor dalam mengawal perjalanan bangsa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Makanya boleh dibilang Gerakan Pemuda Ansor sudah kenyang dengan ujian sejarah. Pemuda Ansor pernah tampil menjadi kekuatan nasionalisme tanpa pamrih dengan Banser-nya. Sehingga tidak heran jika Pemuda Ansor menjadi “icon” keberanian pemuda kala itu. Banyak kader Ansor yang kemudian tampil mewarnai perjalanan bangsa. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas tentang kiprah Ansor dengan Banser-nya. Namun seiring dengan perjalanan sang waktu dan kerentaan usia organisasi, GP Ansor pun tak lagi mampu menolak perubahan dan godaan dari kanan kiri. Salah satunya perubahan gaya hidup dan godaan politik yang menyeret Ansor pada posisi yang serba sulit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kader Ansor zaman dahulu adalah benar-benar pemuda yang tulus ikhlas berjuang demi menegakkan amar ma’ruf. Tidak ada pamrih duniawai dan pamrih lainnya. Makanya mereka sangat kuat dan militan dalam menghadapi berbagai persoalan. Kesulitan organisasi tidak menjadikan mereka mogok berjuang. Malah sebagain mereka mendermabaktikan hidupnya di Ansor. Ini semua dilakukan karena mereka meyakini bahwa yang mereka kerjakan semata-mata demi ummat. Karena itulah para pemuda Ansor &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kemudian banyak yang menjadi agen perubahan sosial di daerahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tapi lihatlah Ansor hari ini yang hidup ditengah glamour gaya hidup modern. Rasanya sangat sulit mencari kader Ansor yang setulus generasi awal Ansor. Kenapa? Perubahan gaya hidup telah menggeser paradigma berorganisasi. Dulu orang berorganisasi semata-mata menyalurkan aspirasi dan panggilan hati. Tapi sekarang orang berorganisasi karena ingin mencari hidup. Makanya tabiat kader Ansor sekarang adalah ada uang baru akan bergerak. Jika tidak ada uang, ya dijamin organisasi Ansor mandul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Sementara orang yang punya idealisme dan kepedulian untuk memajukan Ansor tersingkir atau bahkan mengasingkan diri. Ansor kemudian menjadi tidak menarik untuk digeluti. Padahal sebagai organisasi kepemudaan tertua, Ansor telah mencetak ribuan kader pemimpin bangsa yang menyebar ke semua lapisan masyarakat. Kenapa ini tidak menjadi ruh jihad Ansor saat ini ? Ini harus menjadi bahan pemikiran bersama. Yakni bagaimana mengembalikan Ansor pada khittahnya. Ansor merupakan organisasi kader yang menyiapkan calon pemimpin bukan organisasi gerombolan. Karena itu, Ansor baru akan bisa melahirkan pemimpin militan bila khittah perjuangan Ansor dimaknai ulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Penulis, Pengasuh Pondok Pesantren Riyadussalikin Padaherang, Kab. Ciamis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2060872751215773238-4946429800403345391?l=kangmuhlis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/4946429800403345391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2060872751215773238&amp;postID=4946429800403345391' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/4946429800403345391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/4946429800403345391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/2008/01/gp-ansor-dan-perubahan-masyarakat-oleh.html' title=''/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JYCT5pGekRY/R492o89ZkUI/AAAAAAAAAGo/jGEJrgrH_no/s72-c/GP+Ansor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238.post-9054812465249863818</id><published>2008-01-17T07:35:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T08:45:42.102-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Siapa Aku'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_JYCT5pGekRY/R492Gc9ZkTI/AAAAAAAAAGg/k-YqeiZ--Os/s1600-h/muhlis+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 140px; height: 171px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_JYCT5pGekRY/R492Gc9ZkTI/AAAAAAAAAGg/k-YqeiZ--Os/s200/muhlis+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156469951587520818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-family: verdana;font-family:Arial;font-size:130%;"  lang="IN" &gt;Siapa Aku = Fungsi Keberadaanku?&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: verdana;" align="center"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Oleh Ahmad Mukhlis&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Dalam pepatah Arab seorang filosof berkata” “Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pepatah ini mengandung makna sebelum manusia &lt;b&gt;&lt;i&gt;ma’rifatullah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; terlebih dahulu harus &lt;b&gt;&lt;i&gt;ma’rifatunnafsi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Ma’rifatunnafsi adalah sebuah proses mengenal diri atau mengenal sang aku. Sejak pertama manusia diciptakan ia sudah mengalami problem dengan sang aku. Minimal untuk mengindentifikasi aku manusia menggunakan banyak parameter dan persepsi diri. Dan yang kemudian diaktualkan sebagai aku kadang bukan benar-benar aku seperti yang dikehendaki sang pencipta. Tapi aku ego yang merasa serba bisa dan serba berkuasa, sehingga aku semacam ini gagal melakukan ma’riftullah. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Untuk mendapatkan gambaran aku yang sebenarnya aku pun melakukan renungan soal anatomi tubuhku dan jiwaku yang didalamnya ada kehendak. Ya kemudian aku menarik benang merah bahwa sebutan aku adalah sebuah sebutan tentang individu yang melambangkan keseluruhan unsur individu yang meliputi jiwa dan raganya. Namun demikian hingga kini tetaplah misteri eksistensi aku dalam konteks kesemestaan ini. Begitu juga dalam konteks manusia sendiri aku seringkali menjadi dilema. Yang paling sederhana adalah mempertanyakan jati diri aku dan fungsiku di dunia. Pastilah Tuhan ciptakan manusia ada tujuan dan fungsi yang diemban. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Sebagaimana manusia aku selalu bertanya siapakah aku dan untuk apa aku diciptakan. Pertanyaan ini seringkali sulit dijawab tanpa melakukan perenungan mendalam terhadap zat yang maha segalanya. Sungguh setiap aku bertanya siapa aku yang muncul adalah persepsi dan gambaran pribadiku yang mungkin bukan aku yang sebenarnya. Aku selalu menampilkan topeng wajahku sebab aku memang tak mengenal diriku. Ini mungkin hasil dari konstruksi persepsi yang diberikan kepadaku dari dunia luar. Akupun melakukan pengembaraan ke dalam diri untuk mengenali apa sebenarnya hikmah penciptaan diriku. Aku mulai mencari jawaban atas pertanyaan untuk apa aku diciptakan oleh yang maha kuasa.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Kemudian aku cari jawabannya lewat wahyu. Dalam Al-Quran Allah berfirman: “Sesungguhnya tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah,”. Dalam ayat yang lain Allah menjawab pertanyaan manusia untuk apa diciptakan dengan firman: “Sesungguhnya Aku ciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi”. Kata khalifah dalam bahasa Arab diterjemahkan sebagai wakil, pengelola, pemimpin, dan pengayom. Ya secara tersirat aku diciptakan tentu saja tidak jauh dari makna tersebut. Hal itu diperkuat lagi oleh hadits Nabi Muhammad : “Sesungguhnya setiap kamu adalah pemimpin, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinanmu di akherat.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana;"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian sejak di alam azali aku sudah diberi amanah oleh sang pencipta agar menjadi khalifah di semua lini kehidupan. Aku memang diberi kebebasan memilih oleh sang Pencipta, tapi tetap saja melekat amanah sebagai wakil Tuhan yang harus mengelola alam dan menciptakan kedamaian. Dalam tugas itulah sekali waktu aku harus menjadi seorang negosiator, provokator, dai, leader, dan sekali waktu menjadi orang biasa. Peran ini kadang berjalan bersamaan sesuai dengan ruang dan waktu. Ya aku demikian sempurna diciptakan Allah. Dari sinilah aku mengenal Allah (Ma’rifatullah) sebagai sang maha pencipta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span  lang="IN"  style="font-family:Arial;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Aku akhirnya menjadi manusia seribu wajah karena demikian banyak peran dan fungsi atas keberadaanku di dunia. Namun diatas segalanya, aku ternyata hanyalah seorang hamba yang wajib mengabdikan seluruh hidup dan matiku hanya untuk Allah. Statemen ini tentu saja sulit aku deklarasikan jika aku tak mengenal diri sendiri sebagai pintu mengenal Allah. ***&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2060872751215773238-9054812465249863818?l=kangmuhlis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/9054812465249863818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2060872751215773238&amp;postID=9054812465249863818' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/9054812465249863818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/9054812465249863818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/2008/01/siapa-aku-fungsi-keberadaanku-oleh.html' title=''/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_JYCT5pGekRY/R492Gc9ZkTI/AAAAAAAAAGg/k-YqeiZ--Os/s72-c/muhlis+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238.post-706298420958323988</id><published>2007-12-30T01:44:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T01:49:00.322-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="naskah" style="text-align: center; text-indent: 0in; line-height: 25pt;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; color: red;"&gt;Memaknai Tahun Baru&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="naskah" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: windowtext; text-transform: uppercase;"&gt;Apa sebenarnya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: windowtext;"&gt; makna tahun baru? Bagi mereka yang mendambakan keuntungan biasanya menyambut tahun baru dengan sebuah harapan. Namun bagi mereka yang hari-harinya sama dengan tahun lalu, jelas pergantian tahun sama sekali tidak ada artinya. Orang jenis ini yang saat ini banyak memainkan peran dalam arus interaksi sosial. Tahun selalu berganti, tapi orang jenis ini visi dan pemikirannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak pernah berubah apalagi prilakunya, sehingga mereka selalu ketinggalan zaman. Sayangnya, manusia jenis ini saat ini banyak mengisi ruang publik. Mereka menjelma menjadi pengusaha, intelektual, politisi, ulama, pejabat, dan aktifis LSM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="naskah" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: windowtext;"&gt;Orang semacam ini akan sangat membahayakan kepentingan publik bila mereka berkuasa. Karena itu, kita selayaknya mewaspadai sepak terjang orang-orang ini di tahun 2008. Pasalnya pergulatan politik 2008 akan disesaki berbagai gagasan visioner dan konservatif. Jika diantara dua gagasan ini dimenangkan kelompok konservatif dapat di pastikan pada tahun 2008 tidak ada perubahan sosial yang signifikan. Karena itu, bagi orang yang punya gagasan visioner harus turun gunung mengcounter gagasan kaum konservatis yang selalu menjadikan masa lalu sebagai barometer kekinian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="naskah" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: windowtext;"&gt;Sebagaimana diketahui tantangan global&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang melanda masyarakat saat ini eskalasinya kian meningkat. Tantangan jenis ini tentu saja tidak bisa diselesaikan dengan gaya lama. Diperlukan sejumlah visi baru yang bisa menangkap arus perubahan zaman. Setiap zaman punya tantangan dan peluang yang berbeda. Karena itu, agar kita tidak ditinggalkan oleh zaman kita harus selalu eksis mengikuti perubahan.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="naskah" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: windowtext;"&gt;Imam Syafei pernah berkata,”Jangankan kita berhenti menoleh pun kita bisa ketinggalan zaman”. Maka sebaik-baik orang yang beruntung adalah mereka yang bisa membaca tanda-tanda zaman dan beradaptasi dengan perubahan zaman. Siapakah orang yang bisa beradaptasi dengan perubahan zaman? Yaitu mereka yang senantiasa memperbaharui visi hidupnya dan meningkatkan kualitas dirinya sesuai tantangan zaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Memperbaharui visi hidup adalah salah satu langkah kita dalam rangka mengharmonisasikan antara pemikiran dan tindakan yang menghasilkan perubahan-perubahan. Perubahan kecil&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang kita lakukan akan sangat berarti dalam perubahan global. Akhirnya semua terserah kepada kita semua apakah akan berubah atau tetap berdiam diri. Semoga pada tahun 2008 kita bisa berubah menjadi lebih baik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan lebih optimis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2060872751215773238-706298420958323988?l=kangmuhlis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/706298420958323988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2060872751215773238&amp;postID=706298420958323988' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/706298420958323988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/706298420958323988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/2007/12/memaknai-tahun-baru-apa-sebenarnya.html' title=''/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238.post-4641234292660244166</id><published>2007-12-30T01:40:00.000-08:00</published><updated>2007-12-30T01:42:53.566-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jadilah Ibrahim'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 22pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: red;"&gt;Jadilah Ibrahim !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Lelaki tua berambut putih itu masih termangu memikirkan mimpinya semalam. Puluhan tahun ia tak punya anak, tapi setelah diberi anak, sebuah mimpi yang datang dari Allah memerintahkannya agar menyembelih anaknya. “Bagaimana mungkin aku tega menyembelih anak kesayanganku”, gumam Nabi Ibrahim dengan nada sedih. Namun ia tak larut dalam kesedihan itu, ia pun bangkit menegarkan diri dan mendiskusikan dengan anaknya Ismail. Pagi itu Ibrahim melihat Ismail terlihat cerah dan ceria. Dipanggilnya Ismail dan keduanya duduk untuk diskusi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;“Wahai anakku, sesungguhnya aku semalam bermimpin. Tuhan menyuruhku menyembelihmu. Apa pendapatmu?,” tanya Ibrahim terharu. Buliran airmata membasahi mata Ibrahim. Namun Ismail ternyata anak yang soleh. “Wahai ayah, laksanakanlah mimpi itu, semoga aku termasuk orang-orang yang bersabar,” ujar Ismail. Ibrahim pun terdiam mendengar pendapat anaknya yang tulus menerima perintah Allah. Keesokan harinya Ibrahim mengasah golok dan menyiapkan tempat penjagalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tibalah waktu pelaksanaan penyembelihan. Ismail yang polos membaringkan dirinya di tempat penjagalan. Ibrahim dengan golok terhunus pun sudah siap menyembelih leher Ismail. Ada perasaan berat tapi demi melaksanakan perintah Allah, ia pun mengikhlaskan diri jika harus kehilangan anaknya. “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, “gumam Ibrahim seraya mengangkat goloknya. Dan begitu mata golok menyentuh kulit leher Ismail, datanglah malaikat membawa domba sebagai pengganti Ismail. Inilah tonggok diwajibkannya ibadah Qurban bagi yang mampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Kini Ibrahim memang tinggal cerita, namun nilai kepahlawanan, keikhlasan dan rela berkorban yang ditunjukkan oleh Ibrahim terus membekas dalam benak umat Islam. Sayangnya, ayah-ayah saat ini jauh dari keteladanan Ibrahim. Ayah model sekarang adalah ayah yang selalu memanjakan anak dengan fasilitas materi yang menuntun anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menjadi egois. Ayah sekarang tidak mendidik anaknya menjadi Ismail, tapi anak dengan tipikal egois. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sifat ini belakangan kian menggejala sehingga hampir di semua lini banyak orang yang menjadikan egoisme sebagai prilaku keseharian. Saking egoisnya, orang semacam ini tega memakan temannya, hanya gara-gara urusan materi dan jabatan. Penyakit ini sekarang menjangkiti ayah dan anak-anak yang pejabat, pengusaha, pemborong, politisi, aktifis, kiyai, jaksa, hakim, dokter , perawat, direktur ,ulama dan bahkan preman di terminal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dampak dari penyakit mementingkan dirinya sendiri inilah, mereka kemudian mengembangkan sistem patron politik, kekuasaan dan monopoli akses ekonomi dan keuangan. Uang publik yang seharusnya memakmurkan rakyat banyak hanya berputar di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tidak punya jaringan hanya bisa menonton. Celakanya lagi uang rakyat kemudian diklaim seolah-olah milik patron mereka. Idul Adha seharusnya menjadi wahana mensucikan diri dari egoisme. **** &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2060872751215773238-4641234292660244166?l=kangmuhlis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/4641234292660244166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2060872751215773238&amp;postID=4641234292660244166' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/4641234292660244166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/4641234292660244166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/2007/12/jadilah-ibrahim-lelaki-tua-berambut.html' title=''/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238.post-2737723595440206790</id><published>2007-12-24T03:38:00.000-08:00</published><updated>2007-12-24T03:41:10.964-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saatya Bupati Introspeksi'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: Verdana; color: red;" lang="IN"&gt;Saatnya Bupati Engkon Introspeksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Bagai tak pernah putus dirundung malang. Inilah pepatah yang tepat untuk menggambarkan Kabupaten Ciamis. Sederet kasus yang menyeret para penyelenggara negara terus bertambah. Sebelumnya kasus korupsi DTT dan dana bantuan tsunami yang menerpa pejabat teras. Belakangan menyusul kasus temuan BPK yang membuka kebobrokan Ciamis dalam pengelolaan keuangan. Belum usai bagaimana menyikapi temuan BPK, RSU Ciamis berguncang oleh seorang pasien yang akhirnya melengserkan dr Dedi Rukhwandi dari jabatan direktur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;“Semua kasus tersebut makin meneguhkan bahwa Bupati Ciamis kurang bisa menempatkan “orang-orangnya” dalam kebijakan publik. Malah ada senyalemen suasana “gedung putih” kini terbelah menjadi dua kubu. Ini jelas preseden buruk bagi masa depan Ciamis. Pejabat tidak lagi konsentrasi untuk meningkatkan kinerja. Tapi mereka justru asyik memperebutkan jabatan. Jadi kapan kita bisa menikmati Ciamis Manjing Dinamis,” ? ujar Ketua Jaringan Nurani Rakyat (Janur) Ciamis, Insani Khalik didampingiSekretaris Tatang Djauhari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Menurut Insani, Bupati Ciamis seharusnya segera melakukan introspeksi dan eveluasi secara menyeluruh. Bukan malah saling menyalahkan dan menuding pihak lain. Ciamis sudah lama menjadi bulan-bulanan para petinggi. “Jadi ini harus segera diakhiri, apalagi jika Bupati Engkon masih ada keinginan maju dalam pilkada mendatang. Tapi hak beliau untuk bersikap seperti apa, yang pasti rakyat kini sudah tidak bisa dibodohi,” ujar Insani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;Jika tausyiah Janur ini tidak direspon, kata Insani,boleh jadi Janur akan mencari figur bupati alternatif yang lebih tahu Ciamis. Banyak nama calon bupati yang lebih familiar daripada incumbent sekarang. “Ya hitung-hitung kita melakukan ijtihad politik untuk mencari kemaslahatan bagi masyarakat Ciamis. Kalau yang ada kurang membawa maslahat kenapa mesti takut mencari figur lain,” pungkas Insani yang mengaku sudah banyak dihubungi para calon bupati. (AMs)***&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2060872751215773238-2737723595440206790?l=kangmuhlis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/2737723595440206790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2060872751215773238&amp;postID=2737723595440206790' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/2737723595440206790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/2737723595440206790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/2007/12/saatnya-bupati-engkon-introspeksi-bagai.html' title=''/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2060872751215773238.post-5724695980720321451</id><published>2007-12-24T03:14:00.000-08:00</published><updated>2007-12-24T03:17:34.497-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Andai Abu Nawas Jadi Bupati Ciamis'/><title type='text'>Selisik Kang Muhlis</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; color: red;"&gt;Andaikan Abu Nawas Jadi Bupati Ciamis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Oleh Ahmad Mukhlis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Abu Nawas adalah tokoh sufi yang dikenal zuhud. Suatu hari ia pergi ke pasar melihat pedagang kursi yang lengah. Akhirnya terbersit dalam pikirannya untuk mencuri kursi dan benar saja ia pun nekat mencuri kursi lalu didudukinya. Semua orang yang melihat kelakuan Abu Nawas tercengang dan sebagian ramai-ramai akan memukuli Abu Nawas. Tapi aparat keamanan dari Kerajaan Abasyiah mengamankannya dan membawa Abu Nawas dalam ruang interogasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Penyidik bertanya, “Hai Abu Nawas atas dasar apa kau mencuri kursi?,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Abu Nawas hanya diam membisu tak satu katapun keluar. Sang penyidik hampir saja memukulnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hingga ditanya komandan polisi kerajaan sekalipun Abu Nawas tetap diam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Akhirnya oleh arapat keamanan Abu Nawas dibawa ke istana untuk dipertemukan dengan Raja. Kali ini raja yang akan menyidangkan kasus pencurian kursi dengan tersangka Abu Nawas. Persidangan disaksikan para menteri, gubernur dan bupati kerajaan. Sang raja yang sudah kelihatan marah pun bertanya,” Hai Abu Nawas kenapa kau mencuri kursi?” Abu Nawas masih juga membisu. Sang raja mencari akal agar Abu Nawas berbicara. “Oke, Abu Nawas, aku akan beri hadiah kalau kau mau berbicara. Sekarang bicaralah agar aku tidak salang menghukum,” ujar sang raja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Abu Nawas akhirnya mua buka suara. “Begini sang raja, aku berbicara sebenarnya jika tuan memenuhi permintaanku,” ujar Abu Nawas. “Apa permintaanmu Nawas,” tanya sang raja. “Permintaanku adalah agar tuan menyuruh para menteri, gubernur dan bupati menunjuk hidung para pencuri dan maling di sekitar istana kerajaan,” ujar Abu Nawas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sang raja rupanya setujua dan memerintahkan menteri, bupati dan gubernur menunjuk hidung para maling di istana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Suasana sidang pun menjadi gaduh dan ribut. Sebab semua saling tunjuk hidung bahwa ternyata para pembantu sang raja semuanya maling. Raja makin marah sebab ia tidak menyadari bahwa ia dikelilingi para maling. Pantas saja kalau program pembangunan kerajaan banyak yang bocor. Hingga tercatat dalam sejarah kerajaan Abasyiah pun hancur dan tinggal kenangan. Sang raja akhirnya menghukum semua maling istana dan melepas sang Abu Nawas setelah ia mengaku mencuri kursi untuk alasan memberi pelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kisah Abu Nawas diatas meski sudah berusia ratusan tahun tapi tampaknya relevan dibawa ke alam kekinian, terutama dalam konteks Ciamis. Sayangnya sosok Abu Nawas tidak hadir dalam suasana Ciamis, sehingga para “maling” hingga kini tetap terhormat dalam jabatannya yang mentereng. Tentu saja maling para era Abu Nawas dengan era sekarang jelas berbeda baik karakter, cara memalingnya hingga modus operandi menghilangkan jejaknya. Tapi ada persamaan bahwa maling yang dekat istana selalu selamat, sedang maling di ruang publik akan dihajar langsung baik oleh masyarakat maupun aparat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Maling di seputar istana inilah yang akan mendorong sang pemimpin ikut jadi maling, apalagi jika sebelum dinobatkan duduk di kursi singgasana sang pemimpin sudah dirogoh koceknya. Makanya kalau belakangan kita membaca berita banyak bupati, wakil bupati, walikota, wakil walikota, anggota dewan dan pejabat teras yang meringkut di penjara itu pertanda bahwa tingkat kemalingan mereka sudah demikian parah. Tapi anehnya, meski telah banyak bupati dan wakilnya yang meringkuk dipenjara,tampaknya tidak menyurutkan orang untuk merebut kursi kekuasaan. Bahkan kian banyak yang siap membuang uang demi meraih singgasana. Tak terkecuali di Kabupaten Ciamis yang tahun depan akan melaksanakan hajat politik memilih pemimpin tertinggi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Karena itu bagi yang berminat menduduki kursi bupati sebaiknya melakukan perenungan soal permalingan. Dalam konsep bahasa kata maling bisa bermakna perbuatan tapi sekaligus bermakna mentalitas. Boleh jadi sehari-hari kita melihat orang itu sholat, naik haji dan soleh. Tapi mentalitas dia adalah maling sehingga sulit diberi amanah karena ia senang menyunat, mengkorupsi dan perbuatan sejenis. Maling jenis ini sulit pembuktiannya karena ia selalu tampil menawan dan profesional. Jika mentalitas maling menguasai atmosfir batin dan cara berpikir &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;orang, maka hajatan politik pun akan dimanfaatkan untuk menaikkan “raja maling” yang telah menjadi Malin Kundang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Untuk itu, Ciamis saat ini membutuhkan sosok Abu Nawas untuk menduduki jabatan bupati. Selain zuhud (baca: berani berkorban dan hidup sederhana, red) Abu Nawas juga berani menyikat maling istana. Siapapun bupatinya dan bagaimanapun solehnya ia lambat laun juga akan menjadi “bangsa maling” jika setiap hari di istana dicekoki suguhan hasil maling. Sudah lama APBD Ciamis dijadikan bulan-bulanan kaum pemaling dengan modus yang canggih dan nyaris tak terendus. Jadi sampai kapan kita diamkan keadaan ini ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Tapi saya sendiri pesimis bisakah kita memilih bupati sekaliber Abu Nawas? Tampaknya melihat pergeseran nilai sosial saat ini, saya tidak yakin tahun 2008 kita akan memiliki bupati yang ideal dan bersih. Kenapa demikian ? Tolong dicermati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;soal kriteria calon kandidat bupati. Hampir sembilan puluh persen penduduk Ciamis yang melek politik menentukan kriteria pertama adalah berapa tabungan kandidat di rekening. Soal dia jujur, bersih atau tidak itu ditempatkan dalam nomor belakang. Jadi sangat mafhum jika kelak sang bupati yang telah mengeluarkan dana miliaran juga akan apatis terhadap masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Setidaknya itulah bayangan gelap ke depan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Entah penyakit apa yang menjangkiti masyarakat Ciamis,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belakangan masyarakat senang disuap atau menjual hak pilihnya. Benarkah alasan ekonomi semata atau ada alasan lain?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Berdasarkan hasil survai dan pemetaan politik, ternyata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jual beli hak pilih sebagian memang karena soal ekonomi, terutama masyarakat kecil yang dijual kepalanya oleh para elit politik. Sedangkan bagi kelas menengah elit politik, jual beli hak pilih dan perahu semata-mata untuk menambah kekayaan. Jadi jangan salahkan jika kelak bupati terpilih kembali menjadi maling. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Seperti diketahui, tipikal kelas menengah dan elit politik Ciamis adalah borjuis menak yang ingin selalu diperlakukan terhormat dengan kekayaan dan jabatannya. Itulah sebabnya mereka selalu menampilkan diri serba tahu hajat masyarakat bahkan seperti mendapatkan mandat untuk menentukan masa depan masyarakat. Dan masyarakat kecil yang sudah hafal dibohongi mengiyakan dengan kompensasi uang atau proyek. Akhirnya terbangunlah sombiosis mutualisme yang memunculkan kaum oportunistik. Kondisi sosial politik semacam ini jelas kurang menguntungkan untuk membangun demokratisasi di tingkat lokal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Karena itu siapa lagikah yang peduli dengan masa depan Ciamis? Saatnya arus bawah maju melakukan perubahan radikal dengan menempatkan kelas menengah dan elit dalam posisi pinggir bukan penentu perubahan sosial. Pasalnya selama ini kebijakan pembangunan apapun yang selalu menikmati adalah kelas menengah dan elit, sebab mereka memang punya akses dengan jaringan politik kekuasaan. Jaringan ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus dipotong dan kemudian pembangunan difokuskan ke basis masyarakat. Termasuk dalam pola penganggaran,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masyarakat harus berpartisipasi. Ini kalau Anda sebagai masyarakat tidak menggadaikan hak pilih dan idealisme kepada calon bupati yang diusung kaum pemaling lho...***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Penulis adalah pengamat politik lokal yang kini tercatat sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mahasiswa S2 Magister Ilmu Lingkungan Unsoed Purwokerto. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2060872751215773238-5724695980720321451?l=kangmuhlis.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/feeds/5724695980720321451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2060872751215773238&amp;postID=5724695980720321451' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/5724695980720321451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2060872751215773238/posts/default/5724695980720321451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kangmuhlis.blogspot.com/2007/12/selisik-kang-muhlis.html' title='Selisik Kang Muhlis'/><author><name>KORAN IMSA</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10196899581851840762</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
